Warga Desa di Klaten Ini Mampu Mengubah Sampah Menjadi Pupuk
bandar capsa - Permasalahan sampah di Kabupaten Klaten, ternyata berusaha dipecahkan mandiri oleh warga di Dukuh Tanon, Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu. Bermodal mesin giling pinjaman desa, warga mampu memilah sampah dan mengubahnya menjadi pupuk.
Tempat pengolahannya berada di lahan kosong milik desa dekat pemakaman. Hanya beratap tenda sederhana dan di dalamnya terdapat satu mesin penggiling dan beberapa relawan yang berasal dari warga sekitar.
"Jadi di sini sampah non organik seperti plastik dijual ke pengepul, sampah organik dimasukkan ke mesin penggiling. Terus disemprot dengan satu gelas bakteri fermentasi bahan organik tanah (EM4) dan empat gelas tetes (nira), kemudian ditutup didiamkan selama dua minggu hingga menjadi pupuk," terang salah satu warga Dukuh Tanon Ngadi (62) kepada detikcom, Rabu (15/6/2016).
Dalam sebulan, tempat pengolahan sampah tersebut mampu memproduksi 2 ton pupuk yang harga jualnya Rp 400 per kilogram. Hasilnya digunakan untuk pengembangan tempat pengolahan sampah tersebut karena mesin pun mereka masih meminjam milik desa.
"Ya kalau sebulan 2 ton itu sekitar Rp 800 ribu. Untuk perbaikan di sini dulu. Harapannya sih bisa untuk kesejahteraan warga desa," tandasnya.
Ngadi menjelaskan, awal tercetusnya pengolahan sampah secara mandiri itu bermula dua tahun lalu ketika warga bingung hendak membuang sampah ke mana. Kemudian warga di RW 5 sepakat memilah sampah organik dan non organik ke dalam keranjang sampah.
Kemudian, warga desa meminjam mesin penggiling untuk menggiling sampah hingga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Hingga saat ini memang pengolahan sampah tersebut baru mencakup RW 5 karena terbatas peralatan.
"Awalnya desa saya tidak ada tempat sampah, terus buat. Akhirnya bingung buang ke mana, ditarik truk butuh biaya. Akhirnya timbul dipilah buat pupuk. Ini inisiatif warga," terang Ngadi.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang sempat mengunjungi langsung lokasi pengolahan sampah itu langsung memberikan apresiasi. Bahkan dia "menantang" warga untuk bisa mencakup area lebih luas dan pihaknya siap membantu.
"Mereka dengan mesin pinjam saja bisa, kita akan tingkatkan kapasitasnya. Mereka punya bantuan, lengkap Rp 550 juta, kalau siap itu, kita sudah siapkan, ayo buat usulan. Tapi saya minta nantinya bisa mengolah dari pusat sampah, apa itu? Kalau di sini Pasar Delanggu," kata Ganjar.
Namun Ganjar mengakui kalau perkembangan harus bertahap mulai dari mencakup satu desa kemudian satu kecamatan dan seterusnya. Oleh sebab itu, ia meminta pihak Kecamatan Delanggu bisa membimbing warga, dan Pemprov Jateng juga siap memberikan bantuan alat penggiling.
"Kalau warga Dukuh Tanon sudah bisa mengolah sampah, maka kami mau tingkatkan kapasitasnya, kalau warga sudah siap nanti dibantu asal pengolahannya berskala besar," tandas Ganjar.
"Ini dikerjakan anak-anak muda yang berdedikasi, pemerintah tugasnya mengajari mengolah sampah yang baik," imbuhnya.
Tempat pengolahannya berada di lahan kosong milik desa dekat pemakaman. Hanya beratap tenda sederhana dan di dalamnya terdapat satu mesin penggiling dan beberapa relawan yang berasal dari warga sekitar.
"Jadi di sini sampah non organik seperti plastik dijual ke pengepul, sampah organik dimasukkan ke mesin penggiling. Terus disemprot dengan satu gelas bakteri fermentasi bahan organik tanah (EM4) dan empat gelas tetes (nira), kemudian ditutup didiamkan selama dua minggu hingga menjadi pupuk," terang salah satu warga Dukuh Tanon Ngadi (62) kepada detikcom, Rabu (15/6/2016).
Foto: Tempat pengolahan sampah warga di Desa Dukuh Tanon (Angling/detikcom)
|
Dalam sebulan, tempat pengolahan sampah tersebut mampu memproduksi 2 ton pupuk yang harga jualnya Rp 400 per kilogram. Hasilnya digunakan untuk pengembangan tempat pengolahan sampah tersebut karena mesin pun mereka masih meminjam milik desa.
"Ya kalau sebulan 2 ton itu sekitar Rp 800 ribu. Untuk perbaikan di sini dulu. Harapannya sih bisa untuk kesejahteraan warga desa," tandasnya.
Foto: Tempat pengolahan sampah warga di Desa Dukuh Tanon (Angling/detikcom)
|
Ngadi menjelaskan, awal tercetusnya pengolahan sampah secara mandiri itu bermula dua tahun lalu ketika warga bingung hendak membuang sampah ke mana. Kemudian warga di RW 5 sepakat memilah sampah organik dan non organik ke dalam keranjang sampah.
Kemudian, warga desa meminjam mesin penggiling untuk menggiling sampah hingga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Hingga saat ini memang pengolahan sampah tersebut baru mencakup RW 5 karena terbatas peralatan.
"Awalnya desa saya tidak ada tempat sampah, terus buat. Akhirnya bingung buang ke mana, ditarik truk butuh biaya. Akhirnya timbul dipilah buat pupuk. Ini inisiatif warga," terang Ngadi.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang sempat mengunjungi langsung lokasi pengolahan sampah itu langsung memberikan apresiasi. Bahkan dia "menantang" warga untuk bisa mencakup area lebih luas dan pihaknya siap membantu.
"Mereka dengan mesin pinjam saja bisa, kita akan tingkatkan kapasitasnya. Mereka punya bantuan, lengkap Rp 550 juta, kalau siap itu, kita sudah siapkan, ayo buat usulan. Tapi saya minta nantinya bisa mengolah dari pusat sampah, apa itu? Kalau di sini Pasar Delanggu," kata Ganjar.
Foto: Tempat pengolahan sampah warga di Desa Dukuh Tanon (Angling/detikcom)
|
Namun Ganjar mengakui kalau perkembangan harus bertahap mulai dari mencakup satu desa kemudian satu kecamatan dan seterusnya. Oleh sebab itu, ia meminta pihak Kecamatan Delanggu bisa membimbing warga, dan Pemprov Jateng juga siap memberikan bantuan alat penggiling.
"Kalau warga Dukuh Tanon sudah bisa mengolah sampah, maka kami mau tingkatkan kapasitasnya, kalau warga sudah siap nanti dibantu asal pengolahannya berskala besar," tandas Ganjar.
"Ini dikerjakan anak-anak muda yang berdedikasi, pemerintah tugasnya mengajari mengolah sampah yang baik," imbuhnya.
Link Alternatif Kami :
ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Foto: Tempat pengolahan sampah warga di Desa Dukuh Tanon (Angling/detikcom)
Foto: Tempat pengolahan sampah warga di Desa Dukuh Tanon (Angling/detikcom)
Foto: Tempat pengolahan sampah warga di Desa Dukuh Tanon (Angling/detikcom)
No comments:
Post a Comment